Date : 25 June 2026

Lipstick Effect di Era Sekarang: Masih Berlaku atau Sudah Berubah Bentuk?

Lipstick effect sudah jadi istilah yang akrab di telinga sejak lebih dari dua dekade lalu. Tapi dunia sudah banyak berubah sejak 2001 — mulai dari cara orang berbelanja, gaya hidup digital, hingga kondisi ekonomi global yang jauh lebih kompleks. Pertanyaannya: apakah fenomena ini masih relevan di tahun 2026, atau justru sudah bertransformasi jadi sesuatu yang berbeda?

Data Terbaru Masih Menunjukkan Pola yang Sama

Di Eropa, penjualan produk kecantikan kelas atas (prestige beauty) tercatat naik 8 persen antara tahun 2023 dan 2024, dengan Spanyol dan Italia mencatatkan pertumbuhan tertinggi masing-masing sebesar 11 dan 10 persen. Sebuah firma riset pasar bahkan menyebutkan bahwa meski mulai ada tanda-tanda perlambatan di tahun 2025, konsumen Eropa tetap berinvestasi pada produk kecantikan yang membuat mereka merasa nyaman — salah satu alasan mengapa penjualan produk kecantikan premium tetap bertahan di tengah tekanan biaya hidup.

Di Inggris, industri kecantikan bahkan menyumbang £30.4 miliar terhadap PDB negara pada 2024, naik 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Data lain dari awal hingga pertengahan 2024 juga menunjukkan pola serupa. Lipstik kelas atas mengalami kenaikan pangsa pasar sebesar 37,1 persen, sementara parfum kelas atas naik 19,4 persen. Secara keseluruhan, penjualan lipstik dan parfum naik 27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan kategori kosmetik secara umum tumbuh 7,7 persen sepanjang tahun itu.

Tapi Ada Juga Tanda-tanda Perlambatan

Di sisi lain, tidak semua data mendukung kelanjutan tren ini secara mulus. Industri kecantikan diproyeksikan mencapai valuasi 716 miliar dolar AS pada 2025 dan terus bertumbuh hingga 784,6 miliar dolar pada 2027. Namun, kenaikan penjualan ritel kecantikan global sebesar 10 persen pada 2023 ternyata lebih banyak didorong oleh kenaikan harga, bukan oleh peningkatan volume pembelian yang hanya tumbuh 2 persen.

Perlambatan permintaan konsumen ini justru berlawanan dengan inti teori lipstick effect, yang menyatakan konsumen akan tetap membeli kesenangan-kesenangan kecil meski di tengah ketidakpastian ekonomi. Selain itu, keputusan belanja konsumen kini juga semakin dipengaruhi oleh konten kreator dan figur digital. Sekitar 78 persen Milenial dan Gen Z mengikuti influencer di media sosial untuk menemukan brand baru, dan produk kesehatan serta kecantikan kini menyumbang 81 persen dari total penjualan di TikTok.

Munculnya Versi Baru: dari "Lip Index" sampai "Food-Luxxing"

Karena pola belanja konsumen terus berevolusi, sejumlah pengamat industri mengusulkan agar konsep "lipstick index" diperbarui. Produk yang justru mendominasi minat dan inovasi di kategori bibir belakangan ini adalah lip oil dan lip balm, bukan lipstik konvensional — sehingga ada usulan untuk menyebutnya sebagai "lip index" saja, mengingat kategori produknya sudah lebih luas dari sekadar lipstik.

Fenomena lain yang muncul sebagai "adik" dari lipstick effect adalah tren yang disebut food-luxxing. Tren ini menggambarkan bagaimana barang-barang yang dulunya dianggap biasa, seperti bahan makanan tertentu, kini mulai diposisikan sebagai bentuk kemewahan baru. Sebagai contoh, harga minyak zaitun per liter di Inggris melonjak dari sekitar £4 pada 2020 menjadi £12 pada 2024. Karena status simbol seperti rumah, mobil bagus, atau pakaian branded menjadi semakin tidak terjangkau, generasi muda kini mencari "kemewahan yang terjangkau" lewat keranjang belanja bahan makanan mereka.

Data dari studi Bank of America pada 2024 bahkan menunjukkan bahwa Gen Z menjadi kelompok demografis yang paling banyak menghabiskan uang di toko bahan makanan premium dibandingkan kelompok usia lain.

Lipstick Effect Kini Juga Soal Identitas dan Gaya Hidup

Selain soal harga dan kategori produk, ada juga pergeseran dari sisi makna di balik pembelian itu sendiri. Belakangan ini, relevansi konsep lipstick effect juga terlihat dari cara konsumen mempercantik produk lipstik mereka sendiri—mulai dari case yang dihias, gantungan kunci lucu, hingga sentuhan personalisasi lain yang diminati baik oleh brand maupun konsumen, didorong oleh keinginan untuk bermain dan nostalgia.

Beauty juga semakin terhubung erat dengan konsep wellness, sehingga pembelian produk kecantikan kini dianggap sebagai bagian dari investasi terhadap diri sendiri, bukan sekadar konsumsi semata. Pandemi sebelumnya juga menjadi bukti nyata: banyak konsumen, termasuk yang baru pertama kali tertarik pada kategori ini, mencari "pelarian" dan self-care lewat produk kecantikan, sebuah pola yang mirip dengan inti dari lipstick effect itu sendiri.

Jadi, Apakah Lipstick Effect Masih Berlaku?

Jawabannya: konsepnya masih hidup, tapi bentuknya terus bertransformasi. Inti dari lipstick effect—yaitu kecenderungan konsumen untuk tetap membeli kesenangan kecil yang terjangkau di tengah situasi ekonomi yang menekan—masih terlihat jelas dalam berbagai data terbaru. Namun, kategori produk yang menjadi "wadah" dari perilaku ini semakin meluas, mulai dari lip oil, parfum, hingga bahan makanan premium.

Yang berubah bukan fenomenanya, melainkan cara konsumen mengekspresikannya—dipengaruhi oleh tren media sosial, pergeseran nilai terhadap wellness, dan definisi "kemewahan kecil" yang terus bergerak mengikuti zaman.

Lipstick effect membuktikan dirinya sebagai konsep yang fleksibel, mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan esensi dasarnya. Selama manusia masih mencari cara kecil untuk merasa nyaman dan terkendali di tengah ketidakpastian, fenomena semacam ini kemungkinan akan terus muncul—hanya saja, mungkin dengan nama dan bentuk produk yang berbeda dari generasi ke generasi.

OTHER HANNOCHS News

BACK TO PREVIOUS PAGE

Skin-First Beauty: Ketika "No Makeup Look" Jadi Tren Kecantikan 2026

Kalau dulu cantik identik dengan foundation full coverage dan contour tajam, sekarang ceritanya beda. Tahun 2026, indust...

Nggak Perlu Banyak Produk! 5 Rutinitas Ini Bikin Kulit Glowing

Hai, Nessetizen! Memiliki kulit yang sehat, cerah, dan terlihat bercahaya tentu menjadi skin goals untuk sebagian besar ...

Merawat Bibir Seperti Dewi Aphrodite

Dewi Aphrodite adalah salah satu tokoh paling ikonik dalam mitologi Yunani, dihormati sebagai dewi cinta, keindahan, dan...